Sebuah studi baru memunculkan kekhawatiran tak terduga: raja kobra di India bisa “ikut terbawa” kereta dan muncul jauh dari habitat aslinya. Temuan ini menyorot bagaimana infrastruktur transportasi modern dapat mengubah pola sebaran satwa liar secara pasif.
Riset yang disebut dipublikasikan di jurnal Biotropica meneliti raja kobra Ghats Barat (Ophiophagus kaalinga), spesies yang dikategorikan rentan di India. Fokusnya berada di Goa, wilayah wisata di barat India yang memiliki kombinasi hutan, sungai, dan area permukiman.
Peneliti meninjau data penyelamatan serta laporan lokal yang diautentikasi dalam periode 2002 hingga 2024. Dari kompilasi tersebut, tercatat 47 lokasi kemunculan O. kaalinga di Goa, dengan 18 titik di utara dan 29 titik di selatan negara bagian.
Yang membuat perhatian meningkat adalah lima kasus yang ditemukan dekat koridor kereta api yang ramai. Area tersebut dinilai kurang cocok bagi habitat alami raja kobra yang cenderung menyukai lingkungan lembap dan dekat sumber air.
Lalu, bagaimana ular yang mencintai area basah dapat muncul di zona yang lebih kering dan “asing” seperti sekitar rel? Tim riset mengajukan hipotesis bahwa kereta dapat menjadi rute transportasi berkecepatan tinggi yang tidak disengaja bagi satwa liar.
Menurut dugaan tersebut, raja kobra bisa masuk ke gerbong kargo ketika berburu tikus atau mencari ruang sejuk untuk berlindung. Kompartemen tertutup di antara gerbong serta sumber makanan yang melimpah seperti tikus—bahkan kadang ular lain—dapat membuat ular bertahan sementara selama perjalanan.
Saat kereta bergerak, ular lalu terbawa ke wilayah yang jauh dari habitat asalnya, termasuk area yang sebenarnya tidak ideal. Fenomena ini menjelaskan mengapa tim penyelamat dan warga menemukan kobra di lokasi-lokasi yang tidak lazim.
Peneliti juga mencatat bahwa laporan kemunculan ular di atau sekitar kereta api meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Ada kisah penyelamatan yang terdokumentasi pada 2017, lalu kasus serupa kembali muncul pada 2019 dan 2023 dengan foto serta video yang beredar di media sosial.
Mereka menilai popularitas ponsel pintar murah ikut mendorong peningkatan catatan publik. Peristiwa yang dulu mungkin luput kini lebih mudah direkam dan dibagikan, sehingga pola kemunculan di titik-titik transportasi menjadi lebih terlihat.
Konteksnya tidak ringan karena raja kobra adalah ular berbisa terpanjang di dunia yang dapat mencapai sekitar 5,5 meter. Meski racunnya bukan yang “terkuat” dibanding beberapa spesies lain, jumlah toksin neuro yang dapat disuntikkan dilaporkan besar dan berbahaya. Di India, gigitan ular juga disebut masalah kesehatan serius, dengan estimasi puluhan ribu kematian per tahun dan diklasifikasikan WHO sebagai penyakit tropis terabaikan.
Karena itu, studi ini mendorong koordinasi yang lebih rapat antara otoritas perkeretaapian, petugas kehutanan, dan tim penyelamat satwa. Tujuannya untuk memantau, merespons cepat, serta menekan risiko konflik manusia-satwa liar, terutama ketika jaringan transportasi semakin padat dan habitat alami terus menyusut.


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy