Rangkaian peringatan Hari Jadi ke-448 Sumedang tidak berhenti pada pelaksanaan upacara resmi. Pada Senin, 20 April 2026, Wakil Bupati Sumedang M. Fajar Aldila bersama Kapolres Sumedang AKBP Sandityo Mahadika dan Kepala Lapas Agung Hascahyo melanjutkan agenda dengan berziarah ke makam tokoh-tokoh penting di Komplek Pemakaman Gunung Puyuh.
Dua makam yang menjadi tujuan ziarah adalah makam Pangeran Suria Kusumah Adninata atau Pangeran Sugih serta makam Cut Nyak Dien. Kehadiran para pejabat daerah dan unsur forkopimda dalam kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa ziarah tidak diposisikan sebagai seremonial pelengkap, melainkan sebagai bagian penting dari peringatan sejarah daerah.
Menurut Wakil Bupati Fajar, ziarah ini menjadi momen untuk mengingat kembali jasa para leluhur dan tokoh bangsa yang telah berkontribusi dalam perjalanan sejarah, terutama bagi Kabupaten Sumedang. Ia menegaskan bahwa para pejabat dan masyarakat tidak boleh melupakan perjuangan para pendahulu yang telah bekerja keras demi bangsa dan daerah.
Fajar juga mengaitkan makna ziarah dengan semangat tagline Sumedang, yakni “membumi kadeuleu, karampa, karasa”. Dalam pandangannya, nilai-nilai tersebut harus terus digaungkan agar pembangunan daerah tidak kehilangan akar moral dan historisnya. Peringatan hari jadi, kata dia, semestinya menjadi ruang refleksi, bukan hanya panggung seremoni yang selesai begitu tenda dibongkar.
Ia menambahkan bahwa Hari Jadi Sumedang ke-448 diisi dengan kegiatan yang memberi dampak nyata. Salah satu agenda sebelumnya adalah upacara yang dirangkaikan dengan pemusnahan barang bukti rokok ilegal dan minuman ilegal. Menurut Fajar, langkah itu patut diapresiasi sebagai bentuk komitmen penegakan hukum yang juga menjadi bagian dari tanggung jawab pemerintah daerah.
Bagi Fajar secara pribadi, kunjungan ke makam Pangeran Sugih memiliki pesan moral yang kuat. Ia menyebut momen itu sebagai pengingat agar setiap peringatan daerah selalu dibarengi dengan penghormatan kepada para leluhur. Pesan ini sederhana, tetapi cukup dalam: daerah yang ingin maju tetap harus tahu dari mana ia berasal. Kalau sejarah dilupakan, kadang pembangunan pun akhirnya jalan, tapi arah batinnya hilang.
Ziarah tersebut juga membawa harapan agar nilai perjuangan, pengabdian, dan keteladanan dari para pendahulu terus diwariskan kepada generasi sekarang. Dalam konteks pemerintahan, hal ini bisa diterjemahkan sebagai dorongan untuk membangun daerah dengan kesadaran etis, rasa hormat pada sejarah, dan tanggung jawab kepada masyarakat.
Lewat kegiatan semacam ini, Hari Jadi Sumedang tidak hanya dirayakan sebagai penanda usia, tetapi juga sebagai ruang menguatkan identitas daerah. Dengan menghormati leluhur dan tokoh bangsa, pemerintah berharap masyarakat dapat melihat bahwa pembangunan tidak berdiri sendiri. Ia tumbuh dari jejak panjang sejarah, dari pengorbanan orang-orang sebelumnya, dan dari kesadaran bahwa masa depan yang kuat selalu dibangun di atas ingatan yang tidak putus.


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy