Eskalasi konflik di Timur Tengah membuat banyak perusahaan pengekspor semakin waspada terhadap potensi gangguan rantai pasok, kenaikan ongkos pengiriman, dan risiko kerusakan komoditas, terutama produk pertanian segar.
Ketegangan memuncak setelah serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada 28 Februari, yang kemudian diikuti aksi balasan Iran ke wilayah Israel serta sejumlah pangkalan AS di Timur Tengah. Sejumlah analis menilai perkembangan ini berisiko mengganggu perdagangan global dan jalur logistik internasional.
Di tingkat pelaku usaha, perusahaan ekspor mulai mengambil langkah antisipasi. Hoang Son 1 Joint Stock Company (Dong Nai), misalnya, masih memantau ketat situasi meski beberapa kontainer kacang mete miliknya yang menuju Timur Tengah disebut belum terdampak langsung.
Direktur Jenderal Hoang Son 1, Ta Quang Huyen, mengatakan perusahaan tetap siaga untuk menghindari risiko apabila konflik meluas dan memukul jalur distribusi. Ia menjelaskan, ekspor kacang mete Vietnam ke kawasan tersebut cukup besar, terutama ke Yordania, Israel, dan Turki, sementara porsi ke Iran dan UEA relatif lebih kecil.
Menurut Huyen, sebagian besar kontrak ekspor perusahaan ke Timur Tengah menggunakan skema FOB (Free on Board). Dengan skema ini, perusahaan menyerahkan barang di pelabuhan dan menerima pembayaran setelah dokumen lengkap, sedangkan pihak pembeli menanggung sewa kapal serta biaya angkut. Karena itu, risiko kenaikan ongkos transportasi lebih banyak ditanggung mitra pembeli.
Sikap hati-hati juga diambil Vina T&T Group. Ketua merangkap CEO Vina T&T, Nguyen Dinh Tung, menyebut hingga saat ini perusahaan belum menerima pemberitahuan perubahan tarif atau jadwal kapal. Aktivitas ekspor masih berjalan normal, tetapi perusahaan memilih menunda pengiriman baru yang belum berangkat sambil menunggu perkembangan situasi.
Sementara itu, Pham Quang Anh, pendiri dan CEO perusahaan garmen, mengatakan pihaknya sepakat dengan pelanggan di Yordania untuk mempercepat pengiriman kontainer yang masih tersisa dari pesanan berjalan. Awalnya, pengiriman direncanakan dalam 14 hari, namun dipersingkat menjadi sekitar satu minggu agar bisa memanfaatkan kondisi tarif kapal yang belum melonjak tajam di rute Laut Merah.
Ia menambahkan, perusahaan dan mitra juga memilih fokus pada penyelesaian pesanan yang sudah ada, sambil menunda pembahasan kontrak baru untuk sementara.
Sebagian besar barang ekspor Vietnam ke Timur Tengah dikirim lewat jalur laut melalui koridor Suez–Laut Merah, salah satu rute utama yang menghubungkan Asia dengan Eropa dan Timur Tengah. Jika risiko militer di kawasan meningkat, jalur pelayaran dapat dipaksa memutar lewat Tanjung Harapan (Cape of Good Hope), Afrika Selatan.
Menurut pelaku usaha, pengalihan rute itu dapat menambah waktu pengiriman sekitar 8–10 hari, bahkan hingga setengah bulan, sekaligus mendorong kenaikan biaya pengiriman dan premi asuransi.
Huyen memperkirakan tarif kapal bisa naik 20–30%, tetapi jika dihitung terhadap total nilai pesanan, beban tambahan riil di sisi bisnis masih berkisar 1–3%. Ia menilai tekanan tetap ada, namun belum tentu langsung sangat besar karena porsi logistik dalam biaya pesanan ke Timur Tengah biasanya sekitar 10–20%.
Di sisi lain, Tung memperkirakan waktu transit bisa memanjang signifikan, serupa periode ketegangan Laut Merah sebelumnya, saat pelayaran bisa bertambah lebih dari 10 hari dan biaya pengiriman ikut naik sekitar 10%.
Selain ongkos logistik, pelaku usaha juga mengkhawatirkan ketersediaan kontainer kosong serta risiko rusaknya barang yang mudah busuk selama perjalanan lebih lama.
Huyen menilai gangguan rotasi kapal dan kontainer dapat menghambat rencana impor bahan baku kacang mete mentah dari Afrika Barat, seperti Ghana dan Pantai Gading, yang menjadi penopang produksi perusahaan.
Vina T&T lebih menyoroti risiko pada produk pertanian segar. Tung menjelaskan, komoditas buah segar memiliki batas simpan yang ketat: sebagian buah hanya bertahan sekitar 45 hari, grapefruit dan kelapa sekitar 70 hari, sedangkan buah naga dan mangga sekitar 35 hari. Jika waktu pengiriman memanjang, kualitas produk berisiko turun dan perusahaan harus meninjau ulang komposisi produk ekspor.
Timur Tengah menjadi salah satu pasar yang terus dikembangkan perusahaan Vietnam dalam beberapa tahun terakhir. UEA, Arab Saudi, dan Israel termasuk pasar utama barang Vietnam di kawasan tersebut. Kementerian Perindustrian dan Perdagangan Vietnam mencatat nilai ekspor ke UEA tahun lalu mendekati US$6 miliar, ke Arab Saudi sekitar US$2 miliar, dan ke Israel lebih dari US$865 juta.
Dari sisi pemerintah, Departemen Impor dan Ekspor menilai eskalasi militer di Iran berisiko mendestabilisasi transportasi, perdagangan internasional, dan rantai pasok global. Lembaga itu juga memperkirakan kenaikan harga bahan bakar, ongkos angkut laut, dan biaya logistik udara seiring gangguan rute serta pembatasan wilayah udara di sejumlah negara Timur Tengah.
Pengiriman laut melalui Selat Hormuz juga disebut menghadapi tekanan, setelah meningkatnya risiko keamanan di kawasan tersebut memaksa sebagian pelayaran menjauh atau mengubah rute. Kondisi ini berpotensi memperpanjang waktu transit dan menambah konsumsi bahan bakar kapal.
Dalam surat tertanggal 1 Maret, Departemen Impor dan Ekspor merekomendasikan asosiasi dan pelaku usaha untuk memantau perkembangan secara ketat, menyiapkan langkah mitigasi, serta meninjau klausul transportasi, asuransi, dan force majeure dalam kontrak. Pemerintah juga mendorong diversifikasi pasar dan pasokan untuk mengurangi risiko jika konflik berkepanjangan.
Meski porsi ekspor ke Timur Tengah belum menjadi yang terbesar bagi semua perusahaan, pelaku usaha menilai dampak konflik akan terasa jika perang meluas. Karena itu, banyak eksportir kini memilih strategi jangka pendek: menjaga pesanan yang sudah berjalan, memperkuat komunikasi dengan pelanggan lama, dan menahan ekspansi besar hingga situasi lebih jelas.


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy