Peringatan Hari Jadi ke-448 Sumedang diwarnai dengan ziarah dan tabur bunga ke makam para leluhur Sumedang. Kegiatan ini dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Sumedang bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) sebagai bentuk penghormatan kepada tokoh-tokoh yang memiliki peran penting dalam sejarah panjang daerah tersebut.
Prosesi ziarah dibagi ke dalam tiga tim. Tim pertama dipimpin langsung oleh Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir, tim kedua dipimpin Wakil Bupati M. Fajar Aldila, dan tim ketiga dipimpin Sekretaris Daerah Tuti Ruswati. Pembagian ini menunjukkan bahwa penghormatan kepada para leluhur tidak dilakukan secara simbolik semata, tetapi benar-benar dijalankan sebagai agenda resmi dan terorganisasi.
Bupati Dony memimpin ziarah ke makam raja terakhir Sumedanglarang, Prabu Geusan Ulun, yang berada di Desa Dayeuhluhur, Kecamatan Ganeas. Kehadiran kepala daerah di lokasi tersebut memberi makna tersendiri, sebab Prabu Geusan Ulun merupakan figur penting dalam sejarah Sumedang yang hingga kini masih dikenang sebagai bagian dari identitas daerah.
Dalam kesempatan itu, Dony menyampaikan penghargaan kepada para pendiri, tokoh, dan seluruh elemen masyarakat yang telah berkontribusi dalam perjalanan Sumedang selama 448 tahun. Menurutnya, capaian yang dirasakan hari ini tidak lahir dalam semalam, melainkan merupakan hasil dari proses panjang yang dibangun oleh banyak generasi sebelumnya.
Ia juga mengajak seluruh masyarakat menjadikan peringatan hari jadi sebagai sarana memperkuat persatuan dan semangat gotong royong. Dony menilai kemajuan daerah hanya bisa dicapai jika seluruh unsur masyarakat bergerak bersama, bukan berjalan sendiri-sendiri. Pesan ini terasa relevan karena perayaan daerah sering kali ramai di panggung, tetapi tantangan sesungguhnya justru dimulai setelah spanduk dan umbul-umbul dicopot.
Menurut Dony, kebersamaan dan kerja keras adalah fondasi untuk membawa Sumedang menjadi daerah yang lebih maju. Ia menyampaikan optimisme bahwa Sumedang dapat memberi kontribusi nyata dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045, selama semangat kolektif dan komitmen pembangunan terus dijaga.
Ziarah ke makam leluhur dalam konteks ini bukan hanya kegiatan seremonial bernuansa tradisi, tetapi juga bagian dari upaya menanamkan kesadaran sejarah pada pemimpin dan masyarakat. Dengan mengingat para pendahulu, pemerintah ingin menegaskan bahwa pembangunan hari ini tidak boleh terlepas dari nilai perjuangan dan warisan moral yang ditinggalkan generasi sebelumnya.
Melalui agenda ini, Hari Jadi Sumedang ke-448 diharapkan tidak hanya menjadi momen perayaan usia daerah, tetapi juga menjadi titik penguat identitas, solidaritas, dan tanggung jawab bersama. Penghormatan kepada leluhur menjadi pesan bahwa masa depan Sumedang sebaiknya dibangun dengan pijakan yang jelas: menghargai sejarah, menjaga persatuan, dan bekerja nyata untuk kemajuan yang dapat dirasakan seluruh masyarakat.


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy