Di tengah meningkatnya wacana “memisahkan” dua ekonomi terbesar dunia, Menteri Luar Negeri China Wang Yi menyampaikan peringatan terbuka di Konferensi Keamanan Munich. Ia menilai seruan untuk menjauhkan Amerika Serikat dari China secara emosional bukan pendekatan rasional dan justru menambah risiko hubungan bilateral.
Pernyataan itu disampaikan pada 14 Februari, ketika diskusi keamanan dan ekonomi global sedang dipenuhi kekhawatiran tentang rantai pasok, bahan baku strategis, dan ketergantungan industri. Wang menekankan bahwa hasil terbaik bagi kedua negara tetaplah kerja sama, bukan konfrontasi yang dipelihara oleh sentimen.
Wang juga menyinggung bahwa meski Gedung Putih disebut sempat mengirim sinyal positif, masih ada suara di Amerika Serikat yang dinilai merusak fondasi hubungan. Menurutnya, narasi yang terus menyerang dan mencoreng China bisa mengunci hubungan pada jalur yang lebih sulit dipulihkan.
Dalam kerangka itu, ia meminta Washington menempuh kebijakan yang “positif dan praktis”. Bagi Wang, sikap pragmatis berarti menilai China secara rasional, mengakui kenyataan saling ketergantungan, serta menghindari keputusan yang memotong koneksi ekonomi tanpa kalkulasi matang.
Ia menggambarkan dua kemungkinan arah hubungan. Pertama, AS memilih melihat China secara objektif lalu membangun kebijakan yang realistis. Kedua, AS mengambil langkah pemutusan rantai pasok dan menentang China di banyak isu dengan pendekatan yang disebutnya spontan dan emosional.
Di Munich, Wang juga menyinggung dinamika komunikasi terbaru. Pada 13 Februari, ia bertemu dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio. Seorang pejabat AS menggambarkan pertemuan itu sebagai pertukaran yang “positif dan konstruktif”, termasuk pembicaraan tentang rencana kunjungan ke Beijing pada April oleh Presiden AS Donald Trump.
Setelah setahun relasi yang diguncang kebijakan perdagangan dan tarif, pernyataan-pernyataan tersebut dibaca sebagai upaya menstabilkan kanal dialog. Wang menyebut China terdorong oleh pernyataan Gedung Putih yang disebut menghormati Presiden Xi Jinping dan rakyat China, meski ia mengingatkan bahwa sinyal baik perlu diikuti tindakan.
Namun, konteks global juga berubah. AS dan sejumlah negara Eropa semakin khawatir pada tingkat ketergantungan atas China di sektor bahan baku dan rantai produksi penting. Dorongan untuk mengurangi ketergantungan pun menguat, dan di sinilah Wang menilai risiko “pemisahan” makin sering muncul.
Selain isu ekonomi, Wang memperingatkan soal Taiwan. Ia mengatakan ada pihak yang berupaya “memisahkan Taiwan dari China” dan bermain di sekitar garis merah yang bisa membahayakan hubungan. Peringatan ini ditegaskan sebagai faktor yang dapat mempercepat eskalasi jika dibiarkan.
Di akhir pesannya, Wang menegaskan China lebih menginginkan skenario pertama—hubungan yang dikelola secara rasional. Namun ia juga menyatakan Beijing siap merespons berbagai risiko yang mungkin muncul jika hubungan bergeser ke arah pemisahan yang lebih keras.
Bagi forum di Munich, pernyataan Wang menjadi penanda bahwa stabilisasi dialog tidak otomatis menghapus ketegangan. Di satu sisi ada ruang kerja sama, di sisi lain ada garis-garis sensitif yang dapat membuat hubungan kembali bergolak bila kebijakan diambil dengan dorongan emosi, bukan kalkulasi.


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy