Terminal Jatijajar Catat Puncak Mudik, Sehari Tembus Lebih 1.600 Penumpang

Terminal Jatijajar Catat Puncak Mudik, Sehari Tembus Lebih 1.600 Penumpang
Terminal Jatijajar Catat Puncak Mudik, Sehari Tembus Lebih 1.600 Penumpang

Arus mudik Lebaran 2026 melalui Terminal Jatijajar, Depok, menunjukkan dinamika yang naik-turun dalam beberapa hari terakhir. Data produksi penumpang angkutan Lebaran (angleb) mencatat sempat terjadi lonjakan besar, dengan angka puncak lebih dari 1.600 penumpang diberangkatkan dalam sehari.

Kepala Terminal Jatijajar, Rafik Hidayat, menyampaikan bahwa tren pergerakan pemudik bersifat fluktuatif. Namun, pada pertengahan Maret, peningkatannya terlihat signifikan dan menjadi indikator bahwa mobilitas masyarakat melalui moda bus masih tinggi menjelang hari raya.

Berdasarkan rekap data, pada Kamis (12/3) tercatat 722 penumpang dengan 108 armada bus. Angka ini kemudian naik pada Jumat (13/3) menjadi 965 penumpang dengan 145 bus, menandakan mulai menguatnya gelombang mudik.

Lonjakan berlanjut pada Sabtu (14/3), ketika jumlah penumpang mencapai 1.297 orang dengan 179 bus. Situasi ini memperlihatkan bahwa akhir pekan menjadi momen favorit pemudik untuk memulai perjalanan, terutama bagi mereka yang ingin menghindari keberangkatan di hari-hari paling padat.

Puncaknya terjadi pada Minggu (15/3) dengan 1.615 penumpang, jumlah bus tetap 179 unit. Angka tersebut menjadi titik tertinggi dalam rentang data yang disampaikan, sekaligus menggambarkan tekanan layanan di terminal saat arus mudik menguat.

Memasuki awal pekan, jumlah penumpang mulai turun meski masih tinggi. Senin (16/3) tercatat 1.449 penumpang dengan 167 bus. Selasa (17/3) kembali naik menjadi 1.609 penumpang dengan 152 bus, sebelum menurun pada Rabu (18/3) menjadi 1.370 penumpang dengan 140 bus.

Rafik memperkirakan tren selanjutnya cenderung melandai di kisaran 1.000 penumpang per hari. Meski demikian, ia menilai angka-angka itu belum sepenuhnya merepresentasikan kondisi nyata pergerakan pemudik di Depok.

Alasannya, masih banyak pemudik yang memilih naik dari terminal bayangan di sejumlah titik. Rafik mencontohkan wilayah Cimanggis sebagai salah satu area yang kerap menjadi titik naik-turun bus secara tidak resmi, sehingga mengganggu pendataan sekaligus menambah tantangan pengawasan.

Fenomena terminal bayangan ini membuat distribusi penumpang tidak sepenuhnya terpusat di terminal resmi. Di sisi lain, hal tersebut juga menunjukkan bahwa kebutuhan akses bus yang mudah masih menjadi pertimbangan warga, meski risikonya lebih besar dari sisi keselamatan dan kepastian layanan.

Karena itu, pihak terminal terus mengimbau masyarakat untuk menggunakan fasilitas resmi. Menurut Rafik, terminal resmi lebih terjamin dari sisi keamanan, kenyamanan, dan keselamatan, karena armada dan layanan lebih terpantau. Intinya: mudik itu maraton, bukan sprint—lebih baik berangkat rapi dari terminal, daripada “start” dari lokasi yang bikin data dan keselamatan sama-sama keteteran.

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy