Pergerakan harga bahan pangan pada Rabu (18/2/2026) pagi menunjukkan tren yang relatif menenangkan bagi konsumen. Data dari Panel Harga Badan Pangan Nasional (Bapanas) mencatat sebagian besar komoditas mengalami penurunan, meski ada satu yang masih “keras kepala”: cabai rawit merah.
Situasi ini terjadi di masa transisi setelah periode Imlek sekaligus mendekati meningkatnya kebutuhan belanja rumah tangga menjelang Ramadan. Pada fase seperti ini, pasar biasanya berfluktuasi, namun kali ini mayoritas komoditas justru cenderung melandai.
Cabai rawit merah menjadi pengecualian yang paling menonjol. Komoditas ini terpantau naik 2,32% menjadi Rp77.533 per kilogram. Angka tersebut berada jauh di atas Harga Acuan Pembelian (HAP) pemerintah yang mematok batas maksimal Rp57.000 per kilogram, sehingga perhatian pasar mengarah pada pasokan dan distribusi rawit merah.
Berbeda dengan rawit merah, jenis cabai lain justru turun cukup terasa. Cabai merah keriting berada di sekitar Rp39.714 per kilogram, sementara cabai merah besar turun ke Rp37.146 per kilogram. Kontras ini menunjukkan bahwa tekanan pasokan tidak merata pada semua jenis cabai.
Kabar cukup baik datang dari kelompok protein hewani yang sering sensitif menjelang periode konsumsi tinggi. Daging sapi murni tercatat rata-rata Rp136.250 per kilogram atau turun 2,38%. Posisi ini masih di bawah batas acuan nasional Rp140.000 per kilogram, sehingga daya beli untuk komoditas ini relatif lebih terjaga.
Komoditas ayam dan telur juga menunjukkan penurunan. Daging ayam ras berada di sekitar Rp39.913 per kilogram (turun 3,18%), sedangkan telur ayam ras terkoreksi tipis ke Rp30.774 per kilogram. Bagi rumah tangga, tren ini penting karena ayam dan telur termasuk kebutuhan harian yang sering menjadi menu utama.
Namun tidak semua sumber protein bergerak turun. Kelompok perikanan mengalami kenaikan ringan pada beberapa jenis. Ikan tongkol tercatat di kisaran Rp38.063 per kilogram, sementara ikan bandeng sekitar Rp37.689 per kilogram. Kenaikan ini memberi sinyal bahwa pasokan perikanan di sejumlah titik pasar mungkin sedang tertekan.
Secara umum, data pagi itu menggambarkan pasokan pangan yang cukup siap menghadapi lonjakan permintaan, tetapi komoditas tertentu tetap butuh perhatian. Cabai rawit merah, misalnya, memerlukan pengawasan distribusi yang lebih ketat agar lonjakan harga tidak berlarut dan menekan daya beli.
Bagi konsumen, membaca tren ini bisa membantu menyusun strategi belanja: memanfaatkan momentum turunnya beberapa komoditas, sambil mengantisipasi biaya tambahan untuk rawit merah. Sementara bagi pemerintah dan pelaku distribusi, angka-angka tersebut menjadi alarm agar rantai pasok tetap lancar dan harga tidak lepas kendali.


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy