Di tengah derasnya arus platform digital dan kecerdasan buatan, Diskominfo Jawa Barat menegaskan posisi media massa tetap penting. Pesan ini disampaikan dalam rangka peringatan Hari Pers Nasional 2026, ketika persaingan antara media dan platform teknologi kian terasa di lapangan.
Kepala Diskominfo Jawa Barat, Adi Komar, menilai media massa memiliki peran yang tidak bisa digantikan begitu saja. Baginya, fungsi utama pers adalah menyajikan informasi akurat, dan akurasi itu lahir dari kebiasaan verifikasi—sesuatu yang tidak selalu melekat pada arus informasi di media sosial.
Adi menyoroti perbedaan mendasar antara media massa dan teknologi berbasis AI. Saat siapa pun bisa mengunggah apa pun, media profesional tetap bekerja dengan disiplin pengecekan, menguji kebenaran, dan menjaga konteks. Karena itu, ia menilai media tidak boleh hilang hanya karena gelombang teknologi baru.
Di tingkat kebijakan, Diskominfo Jabar menyatakan memberi dukungan konkret kepada media massa, salah satunya lewat penempatan iklan. Dukungan ini disebut berlaku untuk media daerah maupun nasional, dengan harapan ekosistem pers tetap sehat dan profesional.
Menariknya, Diskominfo Jabar menyampaikan belum menjalin kerja sama langsung dengan perusahaan platform AI dan media sosial besar. Penayangan iklan di media sosial pun disebut dilakukan melalui kerja sama dengan perusahaan media massa, bukan lewat kontrak langsung dengan perusahaan teknologi.
Alasannya, kata Adi, media menawarkan nilai tambah yang dibutuhkan pemerintah dan publik. Selain menyampaikan informasi yang lebih akurat, media juga dianggap mampu menyajikan liputan mendalam yang membantu masyarakat memahami isu, bukan sekadar mengetahui potongan peristiwa.
Sikap Diskominfo Jabar itu sejalan dengan seruan dari Ketua Dewan Pers, Komaruddin Hidayat. Ia mendorong adanya intervensi pemerintah agar pembagian belanja iklan lebih adil antara media massa dan media sosial, sehingga pendapatan iklan tidak “tersedot” mayoritas ke platform digital saja.
Komaruddin juga menekankan bahwa kehadiran pers tetap krusial ketika disinformasi mudah menyebar. Dalam situasi informasi serba cepat, pers diharapkan menjadi penuntun masyarakat menuju fakta yang teruji, terutama ketika rumor dan konten manipulatif kerap menutup ruang diskusi sehat.
Persaingan bisnis memang nyata. Banyak pengiklan tertarik ke platform teknologi karena jangkauan dan fitur penargetannya, sementara media massa merasakan penurunan pendapatan. Namun, Diskominfo Jabar menilai solusi tidak bisa sekadar “mengejar tren”, melainkan menjaga keseimbangan agar sumber informasi tepercaya tetap bertahan.
Di sisi praktis, dukungan pemerintah daerah terhadap media juga bisa dibaca sebagai upaya menjaga kualitas demokrasi lokal. Media yang sehat bukan hanya soal bisnis, tetapi juga soal pengawasan publik, edukasi warga, dan ruang dialog yang lebih tertib dibanding hiruk-pikuk informasi tanpa filter.
Peringatan HPN 2026 menjadi momentum untuk mengingatkan bahwa AI dan platform digital bisa membantu, tetapi tidak menggantikan peran pers yang bekerja dengan etika, verifikasi, dan tanggung jawab. Diskominfo Jabar berharap media tetap kuat agar masyarakat mendapat informasi yang akurat, mendalam, dan bermanfaat.


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy