Pemerintah Kabupaten Sumedang mulai mendorong transformasi pertanian yang lebih modern melalui pengembangan demplot padi tanam benih langsung atau Tabela di Panyindangan Girang, Desa Sukamaju, Kecamatan Rancakalong. Program ini dipandang sebagai langkah strategis untuk membangun model pertanian yang bisa dijadikan laboratorium lapangan sekaligus rujukan bagi pengembangan sistem budidaya yang lebih terukur di masa depan.
Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir mengapresiasi langkah HKTI Sumedang bersama Balitbang Ketahanan Pangan Mandiri yang menggagas metode pertanian terintegrasi tersebut. Menurutnya, demplot ini membawa semangat besar untuk menjawab persoalan dasar di sektor pertanian, terutama kesejahteraan petani yang selama ini belum sepenuhnya terangkat akibat tata kelola yang masih kurang optimal dan persoalan hama yang belum tertangani dengan tuntas.
Pada lahan seluas kurang lebih 170 bata itu ditanam varietas padi Inpari 32 dari Balai Benih Sukamandi Subang. Varietas ini memiliki masa tanam sekitar 110 hingga 120 hari dan dipilih sebagai bagian dari upaya meningkatkan produktivitas pertanian. Penggunaan benih unggul menjadi salah satu pondasi penting dalam pendekatan baru yang sedang diuji di Sumedang.
Sistem Tabela sendiri berbeda dengan pola tanam konvensional yang biasa diterapkan petani. Jika sebelumnya petani memakai sistem pindah tanam, pada metode ini benih langsung ditanam di lahan tanpa tahapan pemindahan. Dengan cara tersebut, proses budidaya dinilai lebih cepat dan lebih efisien. Selain itu, penggunaan pupuk dan pestisida juga bisa diatur lebih terukur sejak awal.
Dari sisi biaya, sistem Tabela memang memerlukan modal produksi yang lebih tinggi. Berdasarkan analisis Dinas Pertanian Kabupaten Sumedang, biaya budidaya dengan pola ini mencapai sekitar Rp18,8 juta per hektare, sedangkan sistem konvensional berkisar Rp11,5 juta per hektare. Namun perbedaan biaya itu tidak bisa dilihat secara sepintas, karena potensi hasil yang ditawarkan juga jauh lebih tinggi.
Bupati menjelaskan bahwa dengan metode Tabela, produksi padi diperkirakan dapat mencapai 16 ton per hektare. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan pola biasa, sehingga perhitungan keekonomian harus dilihat dari keuntungan akhir yang diterima petani, bukan hanya dari besarnya biaya awal. Kalau hasil panennya bisa melonjak sampai dua kali lipat, logikanya memang tidak adil kalau yang dilihat cuma ongkos tanamnya saja.
Lebih jauh, Pemkab berharap metode ini mampu meningkatkan kuantitas panen, memperbaiki kualitas beras, dan mempersingkat waktu tanam hingga panen. Tiga hal ini sangat penting dalam upaya meningkatkan pendapatan petani. Namun Dony mengakui bahwa tantangan terbesarnya bukan cuma teknis, melainkan juga mengubah pola pikir petani dari sistem konvensional menuju pertanian yang lebih terintegrasi.
Dengan hadirnya demplot ini, Sumedang sedang mencoba membangun contoh nyata bahwa modernisasi pertanian bisa dimulai dari model yang terukur dan dapat dievaluasi langsung di lapangan. Jika hasilnya sesuai harapan, Tabela bukan hanya menjadi eksperimen satu musim tanam, tetapi bisa berkembang menjadi model pertanian masa depan yang lebih produktif, efisien, dan lebih menguntungkan bagi petani.


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy