Negara Asia Incar Minyak AS untuk Kurangi Ketergantungan Timur Tengah

Minyak Dunia
Minyak Dunia

Sejumlah negara di Asia disebut ingin meningkatkan pembelian energi dari Amerika Serikat sebagai langkah mengurangi ketergantungan pada pasokan minyak dan gas dari Timur Tengah. Isu ini menguat setelah Menteri Dalam Negeri AS Doug Burgum menyatakan bahwa banyak sekutu Washington di kawasan Asia sedang mencari sumber energi alternatif yang lebih stabil di tengah meningkatnya risiko geopolitik.

Pernyataan Burgum disampaikan kepada CNBC pada 23 Maret. Ia menegaskan bahwa kebijakan energi Presiden Donald Trump diarahkan untuk menyediakan pilihan yang lebih aman bagi negara-negara sahabat Amerika Serikat. Menurutnya, para sekutu kini ingin membeli energi dari AS ketimbang terus bertumpu pada negara-negara yang dinilai memicu permusuhan atau mendukung terorisme.

Amerika Serikat sendiri saat ini berstatus sebagai produsen minyak dan gas terbesar di dunia. Meski demikian, data Administrasi Informasi Energi AS menunjukkan ekspor minyak mentah negara itu pada 2025 hanya sekitar 4 juta barel per hari, turun 3 persen dibandingkan 2024. Artinya, potensi produksi besar belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi ekspor yang terus menanjak, sehingga peluang pasar Asia tetap terbuka lebar.

Lonjakan minat Asia terhadap energi AS tidak lepas dari gangguan pasokan yang dipicu konflik di Timur Tengah. Serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran disebut memicu salah satu gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah. Akibatnya, negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan yang sangat bergantung pada jalur Selat Hormuz kini menghadapi tingkat kerentanan yang lebih tinggi.

Jumlah kapal yang melewati jalur tersebut dilaporkan turun tajam sejak konflik meletus pada 28 Februari. Dampaknya terasa besar, terutama bagi Jepang yang disebut memperoleh sekitar 90 persen impor minyaknya melalui Selat Hormuz. Wakil Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang, Takehiko Matsuo, mengakui bahwa Tokyo sangat terdampak dan kini perlu lebih serius mencari pasokan alternatif, meski langkah itu tidak mudah dilakukan dalam waktu singkat.

Tidak hanya minyak, negara-negara Asia juga sangat tergantung pada pasokan gas alam cair atau LNG dari kawasan Teluk. Pekan lalu, serangan Iran terhadap infrastruktur energi Qatar dikabarkan mengganggu sekitar 20 persen pasokan LNG global. Kondisi ini menambah urgensi bagi Asia untuk mendiversifikasi sumber energi, karena ketergantungan yang terlalu besar pada satu koridor kini terasa makin berisiko.

Dalam konteks ini, Alaska muncul sebagai bagian penting dari strategi energi AS untuk Asia. Burgum menyebut wilayah tersebut berpotensi besar menjadi sumber pasokan yang aman dan cepat diakses. Departemen Dalam Negeri AS baru-baru ini menggelar lelang penyewaan blok minyak dan gas di cadangan minyak nasional Alaska, sementara proyek LNG raksasa di sana juga dijadikan prioritas pemerintahan Trump.

Salah satu keunggulan Alaska, menurut Burgum, adalah waktu tempuh pengiriman yang lebih singkat ke Asia. Energi yang dikirim dari sana disebut hanya memerlukan sekitar delapan hari untuk mencapai sekutu-sekutu Amerika di Asia. Lima hari di antaranya bahkan masih berada di perairan teritorial AS sepanjang Kepulauan Aleut, yang oleh Burgum dipandang sebagai jalur pasokan yang relatif aman dibanding koridor konflik di Timur Tengah.

Jika tren ini berlanjut, peta energi global bisa mengalami pergeseran yang cukup signifikan. Negara-negara Asia mungkin tidak sepenuhnya melepaskan diri dari pasokan Timur Tengah, tetapi dorongan untuk memperbesar porsi impor dari Amerika Serikat menunjukkan satu hal: keamanan pasokan kini menjadi pertimbangan yang sama pentingnya dengan harga. Dalam dunia energi, pasokan murah memang menarik, tetapi pasokan yang aman saat dunia sedang ribut jelas lebih menenangkan.

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy