Dokter Depok Imbau Lebaran Tetap Sehat dengan Buah dan Sayur

Buah
Buah

Perayaan Lebaran memang identik dengan hidangan khas bersantan seperti opor ayam, gulai, dan rendang. Aroma rempahnya menggoda, kuahnya mantap, dan niat untuk “cuma satu sendok” sering berakhir seperti janji diet hari Senin. Namun di balik kelezatan itu, masyarakat diminta tetap waspada agar konsumsi makanan tinggi lemak jenuh tidak berlebihan.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Depok, Devi Maryori, mengingatkan bahwa makanan bersantan masih boleh dinikmati selama perayaan Idulfitri, tetapi porsinya perlu dibatasi. Menurutnya, masalah bukan terletak pada santannya semata, melainkan pada kebiasaan mengonsumsi terlalu banyak dalam satu waktu makan tanpa pengimbang yang tepat.

Ia menilai salah satu langkah paling sederhana namun efektif adalah menyeimbangkan menu lebaran dengan buah dan sayur. Kandungan serat, vitamin, dan mineral dari dua jenis makanan tersebut dapat membantu menjaga keseimbangan gizi tubuh. Dengan begitu, tubuh tidak hanya menerima lemak dan kalori berlebih dari lauk bersantan yang mendominasi meja makan.

Devi menjelaskan bahwa kebiasaan mengimbangi makanan berat dengan sayur dan buah dapat membantu pencernaan tetap nyaman. Selain itu, asupan serat juga berperan dalam memberi rasa kenyang lebih baik, sehingga keinginan untuk terus menambah makanan berlemak bisa lebih terkendali. Jadi, bukan berarti opor dilarang, hanya jangan sampai piringnya berperilaku terlalu optimistis.

Selain komposisi menu, masyarakat juga dianjurkan lebih cermat saat memilih bagian lauk. Daging tanpa kulit atau bagian yang tidak terlalu berlemak dianggap lebih baik untuk mengurangi asupan lemak jenuh. Pilihan sederhana seperti ini kerap terlihat sepele, padahal punya pengaruh nyata terhadap pola makan saat momen lebaran berlangsung beberapa hari berturut-turut.

Hal lain yang ikut disorot adalah kebiasaan memanaskan ulang makanan bersantan. Devi mengingatkan bahwa santan sebaiknya tidak dipanaskan berulang kali karena dapat memengaruhi kualitas lemak dan berisiko menimbulkan gangguan pencernaan. Artinya, strategi “masak banyak, panaskan lima kali” mungkin praktis, tetapi tidak selalu ramah untuk tubuh.

Untuk menjaga keseimbangan energi, Dinas Kesehatan Kota Depok juga mengimbau masyarakat agar tetap aktif bergerak setelah makan. Aktivitas ringan seperti berjalan santai dinilai cukup membantu tubuh membakar kalori yang telah dikonsumsi. Tidak harus langsung lari maraton, yang penting badan tidak sepenuhnya diam setelah sesi makan besar.

Pesan kesehatan ini penting karena perayaan lebaran sering membuat pola makan berubah drastis dalam waktu singkat. Dari yang sebulan berusaha menahan diri, tiba-tiba semua hidangan terasa seperti reuni rasa yang sulit ditolak. Karena itu, pengaturan porsi dan keseimbangan menu menjadi kunci agar tubuh tidak “kaget” menghadapi lonjakan asupan lemak dan kalori.

Pada akhirnya, Devi menegaskan bahwa Lebaran tetap bisa dinikmati dengan sehat apabila masyarakat bijak mengatur porsi, menjaga keseimbangan gizi, dan tetap bergerak aktif. Dengan menambahkan buah dan sayur di tengah hidangan bersantan, suasana hari raya tetap nikmat tanpa membuat tubuh ikut protes setelahnya.

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy