Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menitipkan pesan tegas kepada kepengurusan baru KONI Jawa Timur: pembinaan atlet harus makin terukur, berbasis data, dan memanfaatkan sports science. Pesan ini disampaikan saat ia menyaksikan pelantikan pengurus KONI Jatim masa bakti 2025–2029.
Pelantikan berlangsung di Gedung Negara Grahadi, Surabaya. Ketua Umum KONI Pusat Marciano Norman melantik 69 pengurus, dengan Muhammad Nabil sebagai Ketua KONI Jatim, Akmal Budianto sebagai Sekretaris Umum, dan Jasmono sebagai Bendahara Umum.
Bagi Khofifah, kepengurusan baru memegang peran strategis karena kalender olahraga ke depan padat. Ia menyinggung agenda besar seperti PON XXII 2028 di NTB–NTT, sekaligus berbagai kejuaraan nasional dan internasional lain yang menuntut persiapan panjang.
Ia optimistis Jawa Timur bisa terus menjadi lumbung prestasi atlet nasional, tetapi menekankan pentingnya evaluasi. Cabang olahraga yang pernah mendulang banyak medali perlu dijaga konsistensinya, sementara cabang yang sempat kehilangan medali perlu ditangani lewat pembenahan yang lebih serius.
Salah satu kunci pembenahan itu adalah penerapan sports science. Khofifah mendorong pemanfaatan fasilitas UNESA Sports Science agar latihan atlet tidak hanya keras, tetapi juga cerdas: capaian bisa diukur, beban latihan bisa disesuaikan, dan risiko cedera dapat ditekan.
Selain pendekatan ilmiah, ia menekankan pembangunan budaya olahraga sejak dini. Menurutnya, lingkungan sosial adalah ruang terbaik untuk pembibitan atlet masa depan—mulai dari sekolah, komunitas, hingga dukungan keluarga dan masyarakat yang membangun kebiasaan hidup aktif.
Khofifah juga menyoroti pentingnya sinergi lintas sektor. Ia menyebut Forkopimda Jawa Timur kompak mendukung kemajuan olahraga daerah, dan kerja kolaboratif inilah yang memungkinkan prestasi berkelanjutan. Baginya, tidak ada keberhasilan yang berdiri sendiri tanpa koordinasi dan gotong royong.
Dari KONI Pusat, Marciano Norman menyampaikan bahwa atlet Jawa Timur selama ini menjadi tulang punggung tim nasional Indonesia. Ia mencontohkan ajang SEA Games Thailand, ketika Indonesia berada di peringkat kedua dan sebagian besar medali emas disebut disumbang atlet asal Jawa Timur.
Di sisi lain, Ketua KONI Jatim Muhammad Nabil menekankan bahwa prestasi membutuhkan sinergi berlapis: dari KONI pusat, KONI provinsi, KONI kabupaten/kota, hingga pemerintah pusat dan daerah. Ia menilai “negara harus hadir” untuk menopang pembinaan yang sistematis menuju prestasi terbaik.
Menatap PON 2028, fokus pembinaan disebut akan diarahkan pada cabang olahraga Olimpiade sebagai bagian dari upaya menaikkan peringkat Indonesia di Olimpiade Los Angeles 2028. Dengan pendekatan berbasis data, dukungan fasilitas, dan sinergi program, Jawa Timur menargetkan bukan hanya banyaknya medali, tetapi kualitas pembinaan yang tahan lama.
Pelantikan ini menjadi titik awal kerja panjang. Kepengurusan baru diharapkan mampu menerjemahkan pesan Khofifah: olahraga tidak cukup bertumpu pada bakat, tetapi harus ditopang sistem, ilmu, dan kolaborasi agar prestasi Jawa Timur terus menguat di tingkat nasional maupun dunia.


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy