Fitur Start/Stop Mobil Terancam Hilang Usai Kebijakan Baru Trump

Mobil Toyota

Kebijakan lingkungan terbaru dari pemerintahan Donald Trump berpotensi membawa dampak besar pada industri otomotif, termasuk kemungkinan hilangnya fitur Start/Stop pada mobil.

Dalam pengumuman pada 12 Februari, pemerintah AS melalui Badan Perlindungan Lingkungan (EPA) membatalkan kesimpulan ilmiah sebelumnya yang menyatakan bahwa gas rumah kaca membahayakan kesehatan manusia. Keputusan ini menjadi titik balik penting dalam kebijakan iklim Amerika Serikat.

Kesimpulan ilmiah tersebut selama ini menjadi dasar penetapan standar emisi kendaraan, termasuk dorongan penggunaan teknologi seperti Start/Stop. Kepala EPA, Lee Zeldin, yang diketahui pernah mengkritik teknologi ini, sebelumnya menyebut fitur tersebut tidak disukai banyak orang dan berjanji akan meninjau ulang kebijakan terkait.

Bagaimana Cara Kerja Start/Stop?

Sistem otomatis Start/Stop sering juga disebut Idling Stop dirancang untuk mematikan mesin secara otomatis ketika kendaraan berhenti, misalnya saat lampu merah. Mesin akan menyala kembali ketika pengemudi melepas pedal rem.

Tujuannya sederhana: mengurangi konsumsi bahan bakar dan menekan emisi gas buang. Selain itu, sistem ini membantu mengurangi kebisingan di area perkotaan saat kendaraan berhenti dalam kondisi idle.

Beberapa studi menunjukkan teknologi ini mampu meningkatkan efisiensi bahan bakar sekitar 5 persen, bahkan bisa mencapai 10 persen dalam kondisi lalu lintas kota yang padat. Meskipun EPA tidak pernah secara eksplisit mewajibkan pabrikan memasang fitur ini, banyak produsen mengadopsinya karena membantu meningkatkan skor efisiensi bahan bakar.

Pro dan Kontra di Kalangan Pengemudi

Meski dinilai ramah lingkungan, fitur Start/Stop tidak lepas dari kritik. Sebagian pengemudi merasa sistem tersebut mengganggu karena mesin sering mati dan hidup kembali dalam waktu singkat.

Ada pula kekhawatiran mengenai potensi keausan komponen seperti starter dan baterai. Namun, para ahli otomotif menegaskan bahwa kendaraan modern sudah dirancang dengan sistem kelistrikan yang mampu menahan siklus start ulang yang lebih sering.

Di sisi lain, pendukung teknologi ini berargumen bahwa manfaatnya nyata. Selain membantu menghemat biaya bahan bakar, fitur ini juga berkontribusi pada pengurangan emisi tanpa memerlukan usaha tambahan dari pengemudi.

Pembalikan kebijakan ini juga dapat menghentikan target efisiensi bahan bakar yang sebelumnya direncanakan mencapai 50,4 mil per galon (sekitar 4,7 liter per 100 km) pada tahun 2031 untuk mobil dan truk ringan.

Dengan pelonggaran standar tersebut, kendaraan bermesin pembakaran internal diperkirakan kembali mendapat ruang lebih besar di pasar. Sikap ini konsisten dengan pernyataan Trump sebelumnya yang kerap mengkritik kendaraan listrik.

Pada 2024, Trump secara terbuka menyatakan penolakannya terhadap kebijakan yang terlalu mendorong mobil listrik. Memasuki 2025, ia juga membekukan pendanaan untuk stasiun pengisian daya serta mencabut insentif tertentu bagi produsen baterai.

Jika kebijakan ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin fitur-fitur yang selama ini dianggap bagian dari upaya pengurangan emisi termasuk Start/Stop akan semakin jarang ditemui pada mobil keluaran terbaru.

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy