Spotify bersiap menghadirkan cara baru bagi pengguna untuk mengatur rekomendasi musik secara lebih personal. Platform streaming ini kini memungkinkan penggunanya berinteraksi langsung dengan algoritma rekomendasi melalui bahasa alami, sehingga selera musik tidak lagi hanya dibaca dari tombol suka, riwayat putar, atau kebiasaan mendengarkan semata.
Inovasi ini diumumkan oleh CEO Spotify Gustav Söderström dalam konferensi SXSW di Austin. Lewat pembaruan pada fitur Taste Profile, pengguna Premium nantinya dapat berdialog langsung dengan sistem AI Spotify untuk menyempurnakan daftar rekomendasi yang muncul di akun mereka.
Perubahan ini menandai langkah besar dalam evolusi rekomendasi musik di platform tersebut. Sebelumnya, pengguna hanya bisa mengatur pengalaman mendengarkan secara terbatas, misalnya dengan menyembunyikan lagu, melewati trek, atau memberi tanda suka dan tidak suka. Kini, Spotify ingin memberi ruang kontrol yang jauh lebih detail dan manusiawi.
Dengan dukungan model bahasa besar atau LLM, pengguna bisa menyampaikan keinginan mereka dalam bentuk percakapan biasa. Misalnya, meminta lebih banyak lagu dari artis tertentu, mengurangi genre yang sedang tidak ingin didengar, atau menyesuaikan suasana musik sesuai aktivitas yang sedang dijalani.
Spotify menjelaskan bahwa pengguna juga dapat melihat kriteria yang membentuk profil selera mereka, mulai dari artis, lagu, podcast, hingga audiobook. Dari sana, mereka bisa melakukan penyesuaian yang lebih spesifik. Contohnya, meminta lebih banyak Sabrina Carpenter dan lebih sedikit Doja Cat, beralih sementara dari J-Pop ke K-Pop, atau menurunkan intensitas musik untuk bekerja dan menaikkannya lagi saat olahraga.
Fitur ini akan lebih dari sekadar sistem rekomendasi pasif. Spotify ingin menjadikan algoritma sebagai sesuatu yang bisa diajak “bicara”, bukan sekadar mesin diam yang kadang tiba-tiba merasa kita ingin lagu galau tiga jam penuh hanya karena semalam memutar satu track patah hati.
Pada tahap awal, pembaruan ini akan diluncurkan untuk pelanggan Premium di Selandia Baru. Setelah masa uji coba, Spotify berencana memperluasnya ke pasar lain secara bertahap. Langkah tersebut juga menjadi respons terhadap kritik yang selama ini muncul terkait relevansi rekomendasi algoritmik yang kadang terasa kurang akurat atau terlalu repetitif.
Dengan fitur baru ini, Spotify tampaknya ingin membawa pengalaman streaming ke level yang lebih personal dan transparan. Pengguna tidak lagi sekadar menerima rekomendasi, tetapi ikut membentuknya secara aktif. Jika implementasinya berjalan lancar, pembaruan ini bisa menjadi salah satu perubahan paling penting dalam cara orang membangun hubungan dengan musik digital sehari-hari.


Komentar
Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy