Hewan Peliharaan AI Jadi Teman Baru Anak Muda di China

Ropet AI hewan peliharaan berada di tangan salah satu pendiri Zhou Yushu dari Cute World Technologies. Foto: Xinhua
Ropet AI hewan peliharaan berada di tangan salah satu pendiri Zhou Yushu dari Cute World Technologies. Foto: Xinhua

Di China, muncul tren baru yang terdengar sederhana tetapi dampaknya besar: “hewan peliharaan” berbentuk boneka lembut yang bisa diajak ngobrol. Bukan kucing atau anjing, melainkan perangkat yang ditanamkan kecerdasan buatan sehingga mampu merespons, menunjukkan emosi, bahkan menolak permintaan dengan alasan tertentu.

Salah satu contoh yang ramai di media sosial adalah Shan Shan. Dalam video pendek, sosok ini terlihat menatap pemiliknya dan menanyakan kondisi sang tuan, lalu menolak diminta bernyanyi karena mengaku khawatir. Konten semacam ini menyedot jutaan penayangan dan memicu gelombang rasa penasaran dari pengguna lain.

Popularitas hewan peliharaan AI sering dikaitkan dengan realitas sosial: semakin banyak anak muda menunda pernikahan dan memiliki anak, sementara rasa sepi tetap hadir. Maka, “teman” yang bisa merespons kapan saja dianggap cocok untuk mengisi ruang emosional tanpa tuntutan besar seperti merawat hewan sungguhan.

Seorang pekerja muda di Beijing, Wang Tong Tong (26), menggambarkan pengalamannya dengan perangkat kecil berwarna abu-abu yang diletakkan di samping keyboard. Ia menyebut benda itu menghangat saat disentuh, matanya berkedip, dan mengeluarkan suara lembut ketika dibelai—efek yang membuatnya merasa lebih tenang saat cemas.

Kelebihan lain yang sering diangkat pengguna adalah “perawatan minim”. Tidak perlu memberi makan, memandikan, atau membersihkan kandang. Cukup isi daya, sambungkan internet, lalu interaksi bisa berjalan. Di saat yang sama, pemilik juga bisa “memutus hubungan” kapan pun tanpa beban tanggung jawab jangka panjang.

Fitur yang membuatnya terasa berbeda dari mainan biasa adalah kemampuan menyimpan memori, membangun kepribadian, dan menyediakan catatan interaksi seperti buku harian. Sejumlah pengguna mengaku senang membaca “log” itu karena merasa perasaannya direspons dan “diingat” oleh perangkat.

Trennya ikut terdorong oleh ekosistem industri. Beberapa produk masuk daftar barang populer, dan laporan industri memperkirakan pasar mainan AI buatan China bisa melampaui 1,4 miliar dolar AS pada 2030 dengan laju pertumbuhan tinggi. Sejumlah merek juga memamerkan produknya di ajang teknologi dan mulai menjual ke luar negeri.

Meski demikian, sisi lain dari tren ini mulai dibicarakan. Sebagian pengguna menyebut rasa “bulan madu” hanya bertahan beberapa minggu, lalu interaksi terasa berulang dan menimbulkan kekosongan aneh. Bahkan ada laporan tingkat pengembalian produk yang cukup besar, menandakan ekspektasi dan realitas penggunaan bisa berbeda.

Kekhawatiran yang lebih serius menyangkut privasi. Banyak perangkat memiliki mikrofon, kamera, dan sensor untuk membaca ekspresi, gerak, serta nada suara. Para pakar mengingatkan bahwa pengguna kerap tidak tahu detail data apa yang dikumpulkan, bagaimana diproses, dan siapa yang bisa mengaksesnya.

Pemerintah China disebut ikut memantau isu ini dengan menyiapkan standar kualitas dan keamanan, termasuk perlindungan data. Ada pula arah kebijakan yang mendorong batas jelas: pengguna harus diberi tahu bahwa mereka sedang berinteraksi dengan AI, bukan manusia, agar hubungan virtual tidak mengaburkan relasi nyata.

Pada akhirnya, hewan peliharaan AI menawarkan teman instan yang hangat dan “mudah”. Namun, ia tidak bisa menggantikan kemampuan membangun hubungan di dunia nyata. Tantangannya adalah menjaga keseimbangan: menikmati manfaatnya tanpa terjebak ketergantungan, sekaligus tetap waspada pada risiko data dan privasi.

Komentar

Tanggapilah dengan bijak dan bertanggung jawab. Setiap tanggapan komentar di luar tanggung jawab redaksi. Privacy Policy